Pertamina plans 110MW geothermal plant in Kerinci/ Indonesia

PT Pertamina is planning to build a 2×55 MW geothermal power plant at Lempur village, in the Kerinci district in Indonesia, so local news.

In Indonesia, “The Kerinci district government plans to build a geothermal power plant with a capacity of 2×55 megawatts to meet rising power needs in Jambi province.”, so reported by local news in Indonesia.

“Jambi province will need 275 MW of electrical power in the next five years, almost a two-fold increase from the current peak load of 150 MW,” Irmansyah Herman, the head of the Jambi provincial mining and energy office, said here on Thursday.

He said 110 MW of the province`s power needs was currently supplied by power plants owned by state power utilities PT PLN in Jambi and the remaining 40 percent by the Ombilin hydro-power plant in neighboring West Sumatra province.

To meet power demand on its own, the Jambi provincial government was making constant efforts to develop power plants by taking advantage of potential natural resources such as water, coal and geothermal energy, he said. Continue reading

Posted in Geothermal, History | Leave a comment

ENERGI GEOTHERMAL

Anda sering mendengar geothermal? Istilah geotermal berasal dari bahasa Yunani, geo yang berarti bumi dan therme berarti panas. Energi geotermal merupakan energi yang dibangkitkan dari panas yang tersimpan di bawah permukaan bumi. Sumber energi ini merupakan salah satu alternatif yang diharapkan dapat menyelesaikan ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil.

Energi di dalam Bumi

Bumi terbagi menjadi beberapa lapisan yaitu: perut bumi, mantel bumi, dan kulit bumi sebagai lapisan terluar. Setiap 100 meter kita turun ke dalam perut bumi, temperatur bebatuan cair yang ada di dalam bumi lebih tinggi sekitar 3°C dari bebatuan di atasnya. Semakin jauh ke dalam perut bumi, temperatur batu-batuan maupun lumpur akan semakin tinggi. Bila suhu di permukaan bumi adalah 27°C maka pada kedalaman 100 meter suhu bebatuan mencapai sekitar 30°C. Untuk kedalaman 1 kilometer suhu batu-batuan dan lumpur mencapai 57-60°C, dan bila kita ukur pada kedalaman 2 kilometer, suhu batuan dan lumpur bisa mencapai 120°C atau lebih.

Di dalam kulit bumi, ada kalanya aliran air berada dekat dengan batu-batuan panas yang temperaturnya bisa mencapai 148°C. Air tersebut tidak menjadi uap (steam) karena tidak ada kontak dengan udara. Bila air panas tersebut keluar ke permukaan bumi melalui celah atau retakan di kulit bumi, maka akan timbul air panas yang biasa disebut dengan hot spring. Air panas alam (hot spring) ini biasa dimanfaatkan untuk kolam air panas dan banyak pula yang sekaligus dijadikan tempat wisata. Di Indonesia, banyak sumber air panas alami yang dimanfaatkan sebagai sarana pemandian dan tempat wisata seperti Ciater, Cipanas-Garut, Sipoholon dan Desa Hutabarat di Tarutung, Lau Debuk-debuk di Tanah Karo, dan beberapa tempat lainnya di penjuru tanah air.

Continue reading

Posted in geophysics, Geothermal | 2 Comments

A History of Geothermal Power

The history of geothermal energy use traces back tens of thousands of years around the globe. In times pre-dating modern western civilization, indigenous peoples used hot water from springs for cooking, cleaning, and bathing. These springs served as a source of warmth and their minerals as a source of healing. Archeological evidence shows that the first human use of geothermal resources in North America occurred more than 10,000 years ago with the settlement of Paleo-Indians around hot springs

Continue reading

Posted in Geothermal, History | Leave a comment

PLTP Kamojang-5 Beroperasi 2014

Jakarta (ANTARA News) – PT Pertamina Geothermal menargetkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jabar unit 5 berkapasitas 50 MW pada 2014.

General Manager PT PGE Area Kamojang Harry Zaelani kepada pers di Jakarta, Kamis, mengatakan, saat ini Kamojang-5 masih dalam tahap pengeboran.

Rencananya akan ada lima sumur yang dibor. Kapasitas Kamojang-5 ini lebih rendah dibanding Kamojang-4 yang mencapai 60 MW.

Kapasitas PLTP Kamojang saat ini sebesar 200 MW, yang terdiri atas empat unit yakni PLTP Unit 1 dengan produksi 30 MW, unit 2 dan 3 masing-masing kapasitas 55 MW, yang dimiliki dan dioperasikan oleh PLN serta PLTP unit 4 sebesar 60 MW dimiliki dan dioperasikan oleh PT PGE.
Continue reading

Posted in Geothermal | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

A History of Geothermal Energy in the United States

First geothermal power plant, 1904, Lardarello, Italy.

Archaeological evidence shows that the first human use of geothermal resources in North America occurred more than 10,000 years ago with the settlement of Paleo-Indians at hot springs. The springs served as a source of warmth and cleansing, their minerals as a source of healing. While people still soak in shallow pools heated by the Earth, engineers are developing technologies that will allow us to probe more than 10 miles below the Earth’s surface in search of geothermal energy. We invite you to study the timeline of the recent history of geothermal energy in the United States.

Important Events in the History of Geothermal Energy in the United States

Human beings have used geothermal energy in North America for at least 10,000 years. Paleo-Indians used hot springs for cooking, and for refuge and respite. Hot springs were neutral zones where members of warring nations would bathe together in peace. Native Americans have a history with every major hot spring in the United States.

1800 – 1850

1807

As European settlers moved westward across the continent, they gravitated toward these springs of warmth and vitality. In 1807, the first European to visit the Yellowstone area, John Colter, probably encountered hot springs, leading to the designation “Colter’s Hell”. Also in 1807, settlers founded the city of Hot Springs, Arkansas, where, in 1830, Asa Thompson charged one dollar each for the use of three spring-fed baths in a wooden tub, and the first known commercial use of geothermal energy occurred.

1847

William Bell Elliot, a member of John C. Fremont’s survey party, stumbles upon a steaming valley just north of what is now San Francisco, California. Elliot calls the area The Geysers-a misnomer-and thinks he has found the gates of Hell. Continue reading

Posted in Geothermal, History | Tagged , , | 3 Comments

Jabar Adalah Lumbung Panas Bumi Terbesar di Dunia

detikBandung » News Bandung
Jumat, 11/06/2010 12:31 WIB
Jabar Punya Potensi 5.000 MW dari Panas Bumi
Baban Gandapurnama – detikBandung

Bandung – Provinsi Jabar merupakan lumbung panas bumi terbesar di dunia yakni sebesar 5.000 megawatt. Panas Bumi tersebut dapat dimanfaatkan untuk energi listrik.

Hal itu dikatakan Kepala Badan Geologi R Sukhyar kepada wartawan di salah satu rumah makan di Jalan Ciliwung, Jumat (11/6/2010).

“Provinsi Jabar adalah Provinsi di Indonesia yang merupakan lumbung panas bumi terbesar di dunia. Di Jabar ini, ada potensi 5.000 megawatt energi geothermal (panas bumi),” katanya.

Menurut Sukhyar saat ini daerah di Jabar yang sudah memproduksi panas bumi itu di antaranya adalah Kamojang, Wayang Windu, dan Gunung Salak. Ke depannya, di Jabar ini akan mengeksplorasi permukaan bumi di Patuha dan Cibuni.

“Potensi 5.000 mw sumberdaya panas bumi merupakan yang terbesar di dunia,” ujarnya. Continue reading

Posted in Geothermal | Tagged , , , | 1 Comment

Indonesia Sebagai Pusat Panas Bumi

Oleh : R Sukhyar

JUM’AT, 30 APRIL 2010 00:00 WIB
Indonesia kembali menjadi tuan rumah pertemuan penting dunia. Setelah penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim pada dua tahun lalu, Indonesia kali ini menggelar Konferensi Panas Bumi se Dunia atau World Geothermal Congress – WGC 2010 pada tanggal 25-30 April, di Bali. Konferensi telah dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang dihadiri juga oleh Presiden Islandia dan sekitar 2500 peserta dari 85 negara, Senin (26/4/2010).

WGC yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali dihadiri sekitar dua ribu lima ratus peserta yang mewakili lebih dari 80 negara. Indonesia harus bersaing dengan Jerman dan Islandia untuk dapat menjadi tuan rumah penyelenggaraan WGC 2010.

WGC 2010 dan Konferensi Perubahan Iklim (COP) sangat berhubungan erat. Jika Konferensi Perubahan Iklim menekankan pentingnya pengurangan gas rumah kaca, maka WGC 2010 mendorong percepatan pengembangan panas bumi yang merupakan sumber energi bersih, ramah lingkungan dan terbarukan untuk mengurangi efek gas rumah kaca dimana Indonesia berkomitmen mengurangi emisi karbon sebesar 26% hingga tahun 2020. Continue reading

Posted in Geothermal | Tagged , , , | 2 Comments